Berita Utama

Bukan Semata Tugas Polisi, Kepala BNN Kota Jambi Sebut Orang Tua Adalah Kunci Hancurkan Bisnis Narkoba

Oleh: Tim PWI Muaro Jambi

Narkoba hari ini bukan lagi sekadar kejahatan jalanan, melainkan sebuah mesin pembunuh generasi yang dioperasikan oleh industri raksasa berdarah dingin. Menghadapi kekejaman ini, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Muaro Jambi menolak bungkam. Bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Jambi—yang wilayah yurisdiksinya juga menjangkau Kabupaten Muaro Jambi—genderang perang dan perlawanan tanpa ampun resmi ditabuh. Target utamanya jelas: membangkrutkan bisnis kejam para bandar dan merebut kembali masa depan anak-anak kita.

Fakta mengerikan tentang wajah baru kejahatan narkotika ini dibongkar secara gamblang dalam audiensi strategis antara PWI Muaro Jambi dan Kepala BNN Kota Jambi, Kombes Pol. Marinus Marantika Sitepu, S.Sos., M.Si. Di hadapan para insan pers, Kombes Marinus menelanjangi siasat licik para mafia narkoba yang kini menjadikan kepolosan remaja dan keterbatasan ekonomi warga pedesaan sebagai ladang uang (cuan).

Membongkar Kekejaman “Industri Raksasa” Narkoba Para bandar kini tidak lagi hanya membidik kalangan berduit dengan barang premium. Mereka sengaja menciptakan “paket ritel” seharga Rp20.000 agar racun ini bisa dibeli dengan uang jajan anak sekolah. Lebih mengerikan lagi, jaringan mafia ini membiarkan anak-anak muda bereksperimen di kamar tidur mereka sendiri—mencampur zat-zat berbahaya, seperti obat bius Etomidate atau Mogadon yang tutorialnya dengan bebas mereka pelajari dari internet.

Mafia narkoba tidak pernah peduli apakah racikan itu akan membuat jantung seorang anak berhenti berdetak seketika. Bagi mereka, ini murni hukum ekonomi: asalkan pengguna hilang kesadaran (fly) dan berujung kecanduan, uang akan terus mengalir. Ini adalah bentuk penjajahan gaya baru yang mengeksploitasi nyawa anak bangsa demi kekayaan segelintir kartel.

PWI dan BNN Sudutkan Bandar di Desa-Desa Muaro Jambi Di wilayah Kabupaten Muaro Jambi, ancaman ini merayap nyata. Dari sekitar 150 desa, puluhan di antaranya kini menjadi incaran empuk para bandar yang berlindung di balik dalih minimnya lapangan kerja. Mereka merusak tatanan sosial dengan menjadikan warga desa, bahkan aparat desa, sebagai “tameng hidup” saat ada penggerebekan penegak hukum. Bandar-bandar ini beroperasi dengan sistem “buka-tutup toko” layaknya perusahaan ritel resmi yang dievaluasi setiap hari.

Namun, taktik usang itu kini sudah terbaca. PWI Kabupaten Muaro Jambi di bawah kepemimpinan Mustopa menegaskan tidak akan membiarkan masyarakat desa terus dibodohi, dicuci otaknya, dan dikorbankan oleh para bandar. Di sisi lain, BNN telah memetakan dengan matang dan menyiapkan operasi penindakan terpadu untuk memotong rantai suplai di wilayah-wilayah zona merah. Tidak ada lagi ruang nyaman bagi bandar, termasuk oknum-oknum “beking” yang selama ini merasa bisa membeli hukum. BNN Kota Jambi sendiri telah mewajibkan pakta integritas dan membersihkan internalnya dari oknum yang berani “berteman” dengan bandar.

Senjata Pemusnah Massal Bandar: Orang Tua di Rumah Jika BNN dan kepolisian bersiap menggempur pertahanan bandar dari luar, lantas apa senjata paling mematikan untuk menghancurkan bisnis raksasa ini dari akarnya? Jawabannya sangat logis: Hentikan permintaannya.

“Pabrik narkoba akan tutup dengan sendirinya jika tidak ada yang beli. Tidak ada orang yang mau berbisnis jika tidak ada pasarnya,” tegas Kombes Marinus.

Di sinilah letak puncak advokasi PWI Muaro Jambi. Masyarakat harus sadar bahwa mencegah narkoba bukan semata tugas Polisi, Babinkamtibmas, atau BNN. Benteng pertahanan terkuat sekaligus hal yang paling ditakuti oleh bandar narkoba adalah ketahanan keluarga yang dibangun oleh Orang Tua.

Sindikat narkoba tahu persis bahwa anak-anak yang kekurangan perhatian, hidup dalam keluarga yang retak (broken home), atau kehilangan sosok panutan di rumah adalah target yang paling rapuh. Anak-anak merekam apa yang dilakukan orang tuanya. Jika orang tua memberikan teladan buruk di rumah—sekadar memamerkan kebiasaan buruk tanpa aturan—anak akan dengan mudah lari ke pelukan bandar di luar.

“Jadilah role model (teladan) di tengah keluarga. Awasi anak-anak Anda, terutama jika mereka berjam-jam mengunci diri di kamar bermain internet. Jangan tunggu sampai anak Anda tertangkap tangan membawa barang bukti atau terbujur kaku karena overdosis, baru kita sibuk menyalahkan negara dan aparat yang dianggap tidak hadir,” ingat Kombes Marinus dengan tegas.

Bagi para bandar dan mafia narkoba yang selama ini menari di atas penderitaan warga Muaro Jambi dan Kota Jambi, pesan ini adalah alarm bahaya. PWI Muaro Jambi berkomitmen penuh mengambil peran sebagai penyeimbang, mengedukasi warga desa, dan menelanjangi setiap gerak-gerik perusak generasi ini. Ketika aparat sudah menajamkan pedang hukumnya, dan para orang tua sudah mengunci rapat pintu rumah serta mendidik anak-anaknya dengan keteladanan, maka bisnis raksasa narkoba ini tidak akan memiliki tempat lagi untuk hidup.

Perlawanan ini dimulai hari ini. Hancurkan pasarnya, bangkrutkan bandarnya, dan selamatkan masa depan anak-anak kita—dimulai dari rumah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *